21
Agu
12

KONVERGENSI IFRS DAN PENGARUHNYA KE AUDIT

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1                Latar Belakang Masalah

Teknologi informasi yang berkembang pesat telah mengubah lingkungan pelaporan keuangan, mengurangi batas jarak fisik dan mampu membuat informasi menjadi tersedia diseluruh dunia hanya dengan sekali klik tombol enter dari komputer. Kemajuan ini membawa jutaan investor masuk ke lantai pasar modal di seluruh penjuru dunia. Antusiasnya para investor tidak terhalangi oleh batasan negara. Investor dari Amerika bisa dengan mudah berinvestasi di Eropa, ke Singapura, atau bahkan ke Indonesia.

Keefektifan pasar dunia ini tergantung pada ketepatan waktu dari informasi keuangan yang transparan, dapat dibandingkan dan relevan. Bukan hanya investor dan analis yang membutuhkan informasi seperti ini, melainkan juga dibutuhkan oleh stake holder lainnya seperti pekerja, suppliers, customers, institusi penyedia kredit, bahkan pemerintah. Di jaman globalisasi ini, mereka bukan hanya sekedar ingin mengetahui informasi keuangan dari satu perusahaan saja, melainkan dari banyak perusahaan dari seluruh belahan dunia untuk tujuan benchmarking, membandingkan antar industri vertikal maupun horizontal. Benchmarking adalah hal yang sangat krusial jika ingin berkompetisi dalam bisnis global di masa sekarang ini.

Hal ini tentunya sulit untuk diwujudkan jika perusahaan – perusahaan masih memakai tata cara, bentuk dan prinsip pelaporan keuangan yang berbeda – beda.  Untuk itu diperlukan sebuah standar pelaporan keuangan yang bersifat internasional untuk dapat menyeragamkan laporan keuangan di berbagai belahan dunia. Upaya untuk mencapai tujuan ini dan mencari solusi jangka panjang terhadap kurangnya transparansi informasi keuangan yaitu dengan cara melakukan percepatan harmonisasi standar akuntansi internasional khususnya International Financial Reporting Standard (IFRS) yang dibuat oleh International Accounting Standard Boards (IASB)  dan Financial Accounting Standard Boards (badan pembuat standar Akuntansi di Amerika Serikat).

Membuat perubahan ke IFRS artinya mengadopsi bahasa pelaporan keuangan global yang akan membuat perusahaan bisa lebih dimengerti oleh pasar dunia. Sehingga jika kinerja perusahaan memang memiliki nilai jual yang pantas, maka potensi dagang yang dihasilkan logikanya akan lebih bagus dibandingkan dengan perusahaan yang belum mengadopsi IFRS dalam pembuatan laporan keluarganya. Kantor akuntan publik yang berpredikat The Big Four menyatakan bahwa banyak perusahaan yang telah mengadopsi IFRS mengalami kemajuan yang signifikan dalam rangka memenuhi maksud mereka memasuki pasar modal dunia.

Beralih ke IFRS bukanlah sekedar pekerjaan mengganti angka-angka di laporan keuangan, tetapi mungkin akan mengubah pola pikir dan cara semua elemen di dalam perusahaan. Bagi perusahaan pada umumnya, yang menjadi bahan pertimbangan untuk beralih ke IFRS adalah “Apakah implementasi IFRS akan bermanfaat?”. Tetapi bagi perusahaan- perusahaan yang sudah go international, atau yang memiliki partner dari Uni Eropa, Australia, Russia dan beberapa negara Timur Tengah, tentu sudah tidak punya pilihan lain selain mulai berusaha menerapkan IFRS dalam pelaporan keuangannya jika masih mau berpartner dengan mereka.

Perubahan tata cara pelaporan keuangan GAAP (PSAK atau lainnya) ke IFRS berdampak sangat luas. IFRS akan menjadi kompetensi wajib baru bagi para pekerja akuntansi, salah satunya auditor yang dituntut untuk memberikan pendapat pada laporan keuangan yang diauditnya.  Untuk dapat memberikan pendapat itu, maka seorang auditor harus dapat memahami standar-standar akuntansi yang menjadi acuannya dalam menyatakan pendapat. Dengan kata lain, auditor dituntut untuk dapat memahami IFRS secara menyeluruh.

Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk mengambil judul mengenai Konvergensi Standar Pelaporan Keuangan ke IFRS dan Pengaruhnya Terhadap Audit”.

1.2       Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah yaitu “Bagaimana pengaruh konvergensi standar pelaporan keuangan ke IFRS dan pengaruhnya terhadap audit?”

1.3       Tujuan dan Manfaat Penulisan

1.3.1    Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka dapat ditentukan tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui pengaruh konvergensi standar pelaporan keuangan ke IFRS terhadap audit.

1.3.2     Manfaat

Adapun manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dari penulisan makalah ini adalah sebagai referensi bagi pembaca pada umumnya dan mahasiswa jurusan akuntansi Politeknik Negeri Sriwijaya pada khususnya.

1.4       Ruang lingkup pembahasan

Agar penulisan  ini lebih terarah dan tidak menyimpang dari permasalahan yang ada maka penulis membatasi ruang lingkup pembahasan hanya pada dampak konvergensi IFRS bagi auditor Indonesia.

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1       Pengertian IFRS

            Standar Pelaporan Keuangan Internasional (International Financial Reporting Standards atau IFRS) adalah standar dasar, pengertian dan kerangka kerja yang diadaptasi oleh Badan Standar Akuntansi Internasional (International Accounting Standards Board (IASB)). Sejumlah standar yang dibentuk sebagai bagian dari IFRS dikenal dengan nama terdahulu Internasional Accounting Standards (IAS). IAS dikeluarkan antara tahun 1973 dan 2001 oleh Badan Komite Standar Akuntansi Internasional (Internasional Accounting Standards Committee (IASC)). Pada tanggal 1 April 2001, IASB baru mengambil alih tanggung jawab guna menyusun Standar Akuntansi Internasional dari IASC. Selama pertemuan pertamanya, Badan baru ini mengadaptasi IAS dan SIC yang telah ada. IASB terus mengembangkan standar dan menamai standar-standar barunya dengan nama IFRS.

2.2       Pengertian Audit

Menurut Arens, “Audit adalah pengumpulan dan evaluasi bukti mengenai informasi untuk menentukan dan melaporkan derajat kesesuaian antara informasi tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan. Audit harus dilakukan oleh orang yang kompeten dan independen”. Kriteria untuk mengevaluasi informasi juga bervariasi, tergantung pada informasi yang sedang diaudit. Dalam audit atas laporan keuangan historis  oleh Kantor Akuntan Publik, kriteria yang berlaku biasanya adalah prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia (GAAP). Namun mulai Januari 2012 Indonesia mulai memberlakukan standar IFRS. Perubahan ini tentunya akan memberikan pengaruh pada auditor untuk memberikan pendapat pada laporan yang diauditnya. Adapun jenis-jenis pendapat auditor adalah sebagai berikut:

  1. Laporan audit wajar tanpa pengecualian
  2. Laporan audit wajar tanpa pengecualian dengan paragraf penjelasan
  3. Laporan audit wajar dengan pengecualian
  4. Laporan audit tidak wajar
  5. Tidak memberikan pendapat

 

2.3       Peran Auditor Internal dalam Pengkonversian IFRS

Proyek mengkonversi akuntansi ke IFRS harus dikelola sebagaimana layaknya proyek-proyek berskala besar lainnya. Dalam arti, kecukupan waktu, SDM, serta sumber daya lainnya harus betul-betul diperhatikan, dan seluruh pemain kunci harus terlibat dalam pengambilan keputusan yang kritikal. Walaupun proyek IFRS pada umumnya akan berada di area akuntansi/keuangan, aktivitas audit internal harus menjadi salah satu pemain kunci dalam projek ini mengingat dampaknya yang luas terhadap lingkungan pengendalian internal.

Berikut ini adalah beberapa hal di mana aktivitas audit internal harus berusaha terlibat dalam proyek konversi ke IFRS:

  1. Selama Tahap Pra-implementasi

Langkah pertama aktivitas audit internal adalah melakukan review terhadap rencana proyek IFRS perusahaan untuk memastikan bahwa perusahaan memang telah siap untuk melaksanakan proyek. Auditor internal harus memastikan bahwa proyek telah dirancang dengan memadai dan ditetapkan batas-batas lingkupnya dengan jelas, serta dikelola secara efektif dan efisien. Prosedur yang harus dilakukan termasuk memastikan pengendalian yang tepat, melakukan pengujian kesiapan, mengkaji rencana komunikasi, melakukan pengujian kecukupan program manajemen-perubahan (change management), dan mengkaji manajemen anggaran untuk memastikan bahwa seluruh biaya-biaya yang diperlukan telah dianggarkan. Dengan melakukan review pra-implementasi secara dini seperti ini auditor internal akan memberikan peluang yang lebih besar bagi proyek konversi IFRS untuk sukses.

  1. Selama masa transisi

Auditor internal harus bekerja sama dengan auditor eksternal secara erat selama proses implementasi IFRS untuk mengidentifikasi proses-proses, sistem, dan pengendalian yang terkena dampak IFRS. Setelah mengidentifikasi area-area mana saja yang terkena dampak, auditor internal harus segera membuat perubahan yang sesuai pada dokumentasi proses untuk memastikan bahwa pada area-area yang terkena dampak tersebut, pengendalian akan dapat berfungsi dengan baik dalam lingkungan IFRS yang baru.

  1. Selama Tahap Pasca-implementasi

Setelah tahap implementasi, auditor internal harus memvalidasi proses seputar pembuatan laporan keuangan IFRS yang baru, dengan memberikan layanan assurance kepada manajemen bahwa struktur pengendalian internal yang baru (setelah revisi) telah bekerja dengan baik dan menghasilkan laporan keuangan yang akurat. Paling tidak, assurance ini dilakukan terhadap area-area yang berisiko tinggi, serta memastikan pengendalian telah ada untuk memantau perubahan peraturan IFRS secara kontinyu.

2.4       Hal Yang Perlu Diperhatikan Auditor dalam Kovergensi IFRS

            Sehubungan dengan telah diterbitkannya beberapa PSAK yang baru maupun yang direvisi sampai dengan tanggal 31 Desember 2010 termasuk PSAK No 1 (Revisi 2009) tentang penyajian laporan keuangan, maka Dewan Standar Profesi Institusi Akuntan Publik Indonesia (DSP IAPI) melalui penerbitan Pernyataan Standar Auditing (PSA) No.77 Tanggal 21 Maret 2011 telah melakukan penyesuaian sebagai berikut:

  1. Mencabut Pernyataan Standar Auditing (PSA) tertentu yang sudah tidak relevan; serta
  2. Melakukan pemutakhiran atas penggunaan frasa dan istilah tertentu yag terdapat dalam seluruh PSA, beserta interprestasi lampiran dan contoh yang terdapat di dalamnya (secara kolektif disebut sebagai Standar Auditing). Pemutakhiran frasa dan istilah yang dilakukan adalah sebagai berikut:
    1. Frasa “prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia” berubah menjadi “Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia”
    2. Frasa “generally acceptes accounting standards in Indonesia” berubah menjadi “Indonesia Financial Accounting Standards
    3. Istilah aktiva berubah menjadi asset
    4. Istilah kewajiban berubah menjadi liabilitas
    5. Istilah neraca berubah menjadi laporan posisi keuangan (neraca)
    6. Istilah laporan laba rugi berubah menjadi laporan laba rugi komprehensif

PSA No.77 ini berlaku efektif untuk penugasan yang terkait dengan periode tahu buku dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2011

2.5       Dampak Pengadopsian IFRS terhadap Profesi Akuntansi

Dalam rules-based system, akuntan dapat memperoleh petunjuk implementasi secara detail sehingga mengurangi ketidakpastian dan menghasilkan aplikasi aturan-aturan spesifik dalam standar secara mekanis. Dalam principles-based system, akuntan akan membuat sejumlah estimasi yang harus dia pertanggungjawabkan dan mensyaratkan semakin banyak judgement professional. Dengan membandingkan tiga standar, Benneth et al (2006) menyimpulkan bahwa principles-based mensyaratkan judgement profesional baik pada level transaksi maupun pada level laporan keuangan. Fleksibilitas dalam standar IFRS yang bersifat principles-based akan berdampak pada tipe dan jumlah skill professional yang seharusnya dimiliki oleh akuntan dan auditor. Pengadopsian IFRS menuntut akuntan maupun auditor untuk memiliki pemahaman mengenai kerangka konseptual informasi keuangan agar dapat mengaplikasikan secara tepat dalam pembuatan keputusan serta memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kejadian maupun transaksi bisnis dan ekonomi perusahaan secara fundamental sebelum membuat judgement. Selain keahlian teknis, akuntan juga perlu memahami implikasi etis dan legal dalam implementasi standar. Pengadopsian IFRS juga menciptakan pasar yang luas bagi jasa audit. Berbagai estimasi yang dibuat oleh manajemen perlu dinilai kelayakannya oleh auditor sehingga auditor juga dituntut memiliki kemampuan menginterpretasi tujuan dari suatu standar. AAA Financial Accounting Standard Committee (2003) bahkan meyakini kemungkinan meningkatnya konflik antara auditor dan klien. Pengadopsian IFRS juga memerlukan peran efektif corporate governance.

Permasalahan mengenai rule-based dan principle-based, termasuk adopsi IFRS, membuka berbagai peluang riset. Nelson (2003) mereview beberapa bukti empiris dan menunjukkan bahwa penambahan aturan dapat mempengaruhi presisi suatu standar, namun juga meningkatkan kompleksitasnya sehingga berpengaruh terhadap perilaku partisipan dalam proses pelaporan keuangan. Peluang riset berkaitan dampak pengadopsian IFRS terhadap profesi akuntansi terutama diakibatkan oleh sifat standar yang memerlukan lebih banyak judgement. Riset judgement bukan riset yang mudah dilakukan karena merupakan proses kognitif seseorang dalam membuat keputusan. Riset judgement memerlukan metoda riset spesifik seperti survey dan eksperimen. Riset mengenai dampak pengadopsian IFRS terhadap profesi akuntansi, terutama judgement, belum banyak dilakukan. Penelitian yang menguji mengenai efek rule-based versus principle-based telah dilakukan oleh beberapa peneliti. Psaros & Trotman (2004) menguji dampak tipe standar terhadap judgement konsolidasi oleh penyusun laporan keuangan. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan judgment konsolidasi antara subyek pada kondisi standard yang rule-based dan concepts-based.

 

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

 

Sebagai negara yang memiliki ekonomi terbesar di dunia yang terbesar di dunia yang tergabung dalam G20, dan keikutsertaan Ikatan Akuntan Indonesia dalam International Federation Accounting Committee (IFAC), Indonesia dinilai perlu untuk melakukan konvergensi Standar Akuntansi Keuangan yang selama ini berkiblat ke United States Generally Accepted Accounting Standards ke International Financial Reporting Standards (IFRS).

Konvergensi IFRS banyak memberikan manfaat bagi penggunanya. Diantaranya meningkatkan kualitas, kredibilitas, dan kegunaan laporan keuangan yang tentunya dapat memudahkan pemahaman atas laporan keuangan. Laporan keuangan dapat dimengerti oleh pembaca laporan dari negara manapun karena keseragamannya, dan pada akhirnya akan menciptakan efisiensi dalam penyusunan laporan keuangan dan meningkatkan arus investasi kedalam dan keluar melalui pelaporan yang diterima secara internasional.

Mengadopsi IFRS bukanlah perkara mudah. Banyak kendala yang musti dihadapi diantaranya kendala penerjemahan bahasa yang memakan waktu, standar IFRS yang kompleks dan terus berubah, peningkatan kebutuhan jasa professional judgement, dan transparansi yang kian meningkat. Salah satu solusi yang diberikan adalah dikeluarkannya SAK ETAP (Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik). SAK ETAP ditujukan kepada perusahaan yang tidak go public dan dirasakan tidak memiliki kepentingan untuk mengadopsi IFRS.

Proyek konvergensi IFRS ini melibatkan berbagai pihak, tidak terkecuali auditor. Auditor, khususnya auditor internal memegang peranan penting dalam melakukan konvergensi IFRS dalam suatu perusahaan. Peran tersebut diantaranya adalah memastikan bahwa perusahaan memang telah siap untuk mengadopsi IFRS,  memastikan bahwa proyek telah dirancang dengan memadai dan ditetapkan batas-batas lingkupnya dengan jelas, serta dikelola secara efektif dan efisien, mengidentifikasi area-area mana saja yang terkena dampak, serta memberikan layanan assurance kepada manajemen bahwa struktur pengendalian internal yang baru (setelah revisi) telah bekerja dengan baik dan menghasilkan laporan keuangan yang akurat.

Hal-hal yang perlu diperhatikan auditor setelah dikeluarkannya Pernyataan Standar Auditing (PSA) No.77 Tanggal 21 Maret 2011 diantaranya adalah akan dilakukannya pencabutan Pernyataan Standar Auditing (PSA) tertentu yang sudah tidak relevan serta melakukan pemutakhiran atas penggunaan frasa dan istilah tertentu yang terdapat dalam seluruh Pernyataan Standar Akuntansi. Hal ini mendorong auditor untuk terus belajar dan memahami perkembangan IFRS agar dapat memberikan pendapat pada suatu laporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku dan benar-benar telah dikuasainya dengan baik. Jika entitas belum melakukan konvergensi laporan keuangannya berbasis IFRS, maka bukan tidak mungkin akan banyak sekali pendapat tidak wajar yang dikeluarkan oleh auditor pada saat pemeriksaan laporan keuangan selesai dilaksanakan.

Selain mendorong auditor untuk terus belajar dan memahami apa itu IFRS, dampak IFRS bagi auditor adalah menuntut mereka untuk memiliki skill lain yaitu professional judgement. Perubahan rule based systems menjadi principle based systems menuntut auditor untuk memiliki pemahaman mengenai kerangka konseptual informasi keuangan agar dapat mengaplikasikan secara tepat dalam pembuatan keputusan serta memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kejadian maupun transaksi bisnis dan ekonomi perusahaan secara fundamental sebelum membuat judgement. . Pengadopsian IFRS juga menciptakan pasar yang luas bagi jasa audit. Berbagai estimasi yang dibuat oleh manajemen perlu dinilai kelayakannya oleh auditor sehingga auditor juga dituntut memiliki kemampuan menginterpretasi tujuan dari suatu standar. Hal ini tentunya akan memberikan pengaruh terhadap penilaian auditor dan pemberian pendapat dalam laporan audit suatu entitas.

BAB IV

KESIMPULAN

 

Berdasarkan pembahasan yang penulis lakukan pada Bab III mengenai pengaruh konvergensi IFRS terhadap perpajakan  maka penulis dapat menarik kesimpulan diantaranya:

  1. Konvergensi IFRS memang diperlukan oleh Indonesia, selain karena Indonesia tergabung dalam G20 dan IFAC, konvergensi ini dilakukan karena IFRS akan memberikan banyak manfaat bagi perusahaan Indonesia yang listing di pasar global karena dapat mengurangi biaya penyusunan laporan keuangan dan meningkatkan arus investasi masuk dan keluar.
  2. Auditor internal memberikan pengaruh yang besar dalam proyek konvergensi IFRS suatu perusahaan. Selama masa pra implementasi,  auditor internal  melakukan review memastikan kesiapan bahwa proyek telah dirancang dengan memadai dan dikelola secara efektif dan efisien. Selama masa transisi hingga masa pasca implementasi, auditor internal mengidentifikasi area-area mana saja yang terkena dampak konvergensi IFRS dan dengan segera membuat perubahan yang sesuai pada dokumentasi proses.
  3.  Sehubungan dengan telah diterbitkannya beberapa PSAK yang baru maupun yang direvisi sampai dengan tanggal 31 Desember 2010, DSP IAI telah melakukan penyesuaian diantaranya mencabut Pernyataan Standar Auditing (PSA) tertentu yang sudah tidak relevan serta melakukan pemutakhiran atas penggunaan frasa dan istilah tertentu yag terdapat dalam seluruh PSA.
  4. Pengadopsian IFRS berupa perubahan rule based systems menjadi principle based systems menuntut auditor untuk memiliki pemahaman mengenai kerangka konseptual informasi keuangan agar dapat mengaplikasikan secara tepat dalam pembuatan keputusan serta memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kejadian maupun transaksi bisnis dan ekonomi perusahaan secara fundamental sebelum membuat judgement.

DAFTAR PUSTAKA

Available from: URL: http://news.okezone.com/BeritaAnda/index.php/ReadStory/2009/05/28/229/223980/dampak-konvergensi-ifrs-terhadap-bisnis;Accessed December 8, 2011

Available from: URL: http://harjanti.staff.umy.ac.id/?p=23 December 8, 2011

Available from: URL: http:// http://auditorinternal.com/2010/04/01/tanggung-jawab-aktivitas-audit-internal-dalam-proses-ifrs/. Accessed December 13, 2011

Available from: URL: http://www.pertamina.com/index.php/detail/view/pertamina-news_/8250/auditor-harus-memahami-ifrs. Accessed December 20, 2011

Available from: URL: http:// auditme-post.blogspot.com/.Accessed December 20, 2011


0 Responses to “KONVERGENSI IFRS DAN PENGARUHNYA KE AUDIT”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Maho’s File

Maho

Mahonak namaku, Mohak sifatku, Maho nama panggilanku... tapi aku bukan makhluk homo

MikaMika calendar

Agustus 2012
S S R K J S M
« Jul   Okt »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Twitter Maho

Error: Please make sure the Twitter account is public.


%d blogger menyukai ini: